Rabu, 06 Oktober 2010

PART 3 : terkadang kita harus mengorbankan seseorang atau sesuatu yang kita cintai demi sesorang atau sesuatu yang lebih kita cintai.

Aku tertegun, ada kata menghentak halus di hatiku. “bukan aku tak mencintainya, tapi terkadang kita harus mengorbankan seseorang atau sesuatu yang kita cintai demi sesorang atau sesuatu yang lebih kita cintai”…

***
Sepertinya kekakuan membuatku menghindar dari suasana yang hening. Aku seperti lari darinya. Aku seperti takut berada di dekatnya. Bukan karna aku seorang perempuan pengecut. Tapi hati ini yang sedikit mEnjadi penakut. Takut bila suasana memaksaku berada sendiri di dekatnya. Bukan karna ia jahat atau mungkin dia seorang pedhophil (hahahaha… berasa aku masih keciiiil),.dia juga bukan lelaki yang sehati dengan Babe Baikuni yang sekarang lagi santer di berita. Dia manis, dia baik, dia sopan dan semua itu membuatku kaku tak tau harus bagaimana bila ia di hadapanku. Namun alasan terbaik darisemua ini adalah dilema yang dengan sengaja aku bahkan juga dia, dengan enaknya kami simpan di hati. Membuat ia menjalar ke otak bahkan ke seluruh tubuh . Membuat tiap hari-hariku bertaburan helaan nafas panjang, berusaha untuk menenangkan hati, memaksa hati menerima dan meyakinkan bahwa semua akan baik2 saja.

Beberapa hari ini ia hadir dalam hari-hariku lagi. Lebih tepatnya ia mendatangiku dengan tanpa sengaja. Mungkin bukan aku tujuan utamanya, ntah apalah itu sudah tak ada pengaruh lagi rasanya. Kami begitu lepas bila berada dalam keluarga. Sama halnya ketika kami belum memikirkan segala dilema yang ternyata membuntuti kami. Sungguh bagaikan sandiwara. Beribu canda dan tawa seolah dengan gampangnya lepas ketika jumlah manusia yg ada lebih dari 2. Atau dengan kata lain, kekauan itu sirna dan lari dengan kehadiran orang lain disampingku atau dia. Aneh. Tapi lagi-lagi inilah apa adanya.

Beberapa temanku seolah telah dihipnotis oleh lelaki pengobrak-abrik otak ku ini. Beberapa pertanyaan sulit seolah-olah menampar wajahku. Termasuk pertanyaan “aneh, ga usah pusing lagi. Cakep iya, baik iya, kenal baik iya, supel, pendidikan tinggi, masa depan terjaminlah..branded pula! Apa lg sih? Tinggal bilang oke! Langsung panggil penghulu”. Anjriiiiiiiiiiiiiiiit… alangkah enaknya kata-kata perempuan yang selama ini menjadi mangkok unek-unekku. Ditambah lagi kata-katanya yang menggelitik tapi meresahkan “ udahlah! Putusin aja yg itu.dia dulu juga seenaknya aja ninggalin kamu demi wanita si pesona sesaat itu.anggap aja ini karma buat si cowok labil itu! Salah siapa dia bukan lelaki sejati yg kata kamu itu.hahahaha”. spontan bantal yg ada di sampingku pun terbang ke mukanya.

Oh my god… apa aku terlalu berlebihan?! Terlalu mengambil pusing semua ini?. Tapi ini masalah hati. Masalah hidup yang akan aku pertaruhkan hingga nanti sampai ntah!. Aku tak tahu apa wajar bila kristal2 air mataku harus pecah begitu saja.tapi nyatanya tidak. Seolah-olah aku tak sudi menangisi hal ini. Lagi-lagi kegengsianku terhadap masalah cinta terus membumbung tinggi.

***

Malam yang seksi…seseksi hatiku..hujan lebat benar-benar memberikan badai di hatiku. Seolah menjawab kegelisahan dan debaran jantung yang tak kunjung hilang sejak sore hari. Aku baru mengerti intuisi itu seolah memberikan tanda hati-hati untukku. Tepat ketika aku akan keluar bersama “si datuk maringgi muda” ku, sosok yang selama ini terlalu sibuk dgn diri danpekerjaannya pun tiba-tiba bagaikan hantu berdiri tegap di depan pintu. Dengan senyum yang sungguh aku rindukan. Rintik hujan tidak terlalu membuatnya basah meskipun hujan benar-benar lebat. Seperti biasa aku memintanya untuk memasukkan mobilnya ke garasi kiri yg sedang kosong. Sementara lelaki yang telah aku janjikan untuk menemaninya makan malam ini hanya terdiam dan bertanya “ itu dia??”, aku mengangguk tanpa ekspresi. Tak tahu aku harus senyum atau nyengir. “ ya udah, besok aja . lagipula ujan gini pasti jalannya ga keliatan”. Aku hanya menjawab “ya udah”.

Malam itu pun terjadi perkenalan antara mereka berdua. Belum sempat aku memperkerkenalkan siapa lelaki rapi dengan baju berwarna putih ini, “datuk maringgi muda” ku itu pun langsung memperkenalkan diri bahwa ia adalah saudaraku. Pupus sudah kecemasanku. Sungguh aku belum siap untuk mengakhiri semua ini, belum siap untuk menjelaskan semua. Belum mampu aku melihat raut wajah kekecewaan itu. Belum tega rasanya. Meski pun ia pernah menjadi lelaki tak berhati, tapi sungguh aku tak mampu memberikan hentakan di hatinya. Seolah aku masih mencintai senyum itu.

***

Beberapa jam yang lalu, hariku masih saja didekorasi oleh kedua sosok itu. Tapi jasadku sedang menemani saudara jauhku yang notabene adalah calon pendampingku (ugh…rasanya masih janggal menyebutnya sebagai calon suami). 1 detik pun terasa bagai seabad. Bukan karena tak nyaman, tapi ntah apa yang aku rasa pun aku tak mengerti.
Aku beranikan diri berbasa-basi mengenai dilema yang menggelayuti hati masing-masing.tepatnya saat aku memegang poneslnya, melihat2 photo-photo narsisku selama aku di kotanya.dan sampai akhirnya muncul photo seorang wanita manis berambut panjang itu. Sepertinya aku kehilangan kontrol pikiranku. Ntah mengapa semua moodku seolah-olah memburuk. Sepertinya senyum lucu yg tercipta dari pose2ku tadi luntur dalam hitungan detik.
“photonya lucu”, namun dalam hatiku berkata : tapi aku lebih lucu.
“hmmm”, ia melirik k hp yg sedang asik ku pegang.
“tadi malam kalian ngomongin apa aja?”, ia balik menyerangku.
“nggak … ya ngobrol seperti biasa. Igh! Kok malah nanya2?”
“sampai kapan?”
“apanya?”
“hubungan kalian”
“loh??kalian juga sampai kapan?”
“sampai ada masalah yang bisa dijadikan alasan untuk kami pisah”
“aneh”
“kenapa aneh?”
“bukannya kamu sebenarnya cinta sama dia? Kamu kan laki-laki, masa terima aja dijodohin.”
“kamu sendiri?”
“kalau aku jadi laki-laki ya pasti aku pertahankan dong cintaku”
“apa bedanya dengan perempuan?”
“ya…kalo nikah kan yg pake wali itu perempuannya”, ntah kenapa mulut ini langsung menjawab seperti itu.
“ tapi kan kamu bisa bilang kalo sebenarnya dah punya pacar”
“iya…masalahnya, mami tau kalau kami pernah putus karna dia jatuh cinta sama cewek lain. Jadi nggak mungkin mami setuju. Nggak mungkin juga dia yang dijadikan alasanku buat nolak kamu”. Aku mulai semangat dengan perbincangan itu.
“lagian, ngapain juga masih mau sama tu orang??”
Aku hanya bisa mengerutkan wajah mendengar pertanyaan itu
“ya gimana…aku memang tetap cinta. Kalo cinta yang tulus kan nggak mengharap apa-apa”, cuih! Sejak kapn aku jadi pemuja cinta. “kamu sendiiri, masih cinta kan sama pacar kamu?”
“masih”
“trus, kenapa kamu terima aja waktu itu mama bilang aku calon kamu?ugh”
“kamu itu sebenarnya kesal karna aku bilang masih cinta sama Vivi ato karna waktu itu aku terima dibilang calonmu?”
“heeeh???Ge Er”.
“ya aku diam aja..karna mama dah bilang itu dari dulu”
“jadi kamu dah tau dari dulu?sejak kapan?”
“dah dulu banget. Liat kan kemaren di rumah kakek, ada photo kamu masih kecil yg dipajang di dinding”
“iya, kok bukan photo kamu aja? Kan kamu yang cucunya”
“kamu kan juga cucunya”
“iya…tapi kan yang kandung-kandung banget kan kamu! Cucu tertua pula, aku kan cucu kakaknya kakekmu. Aku orangnya kan ngengenin ga kayak kamu. Wajar photoku sejak dulu masih diabadikan.weeeek”
“tau tuh! Makanya aku dulu waktu masih SD sering nanya itu siapa. Katanya cucu kakek juga.”
“iiih dulu kan kita juga sering main sama2 waktu masih kecil”
“hehehe, iya siih..tapi kamu kan malah suka mainnya sama abang, bukan sama aku”
“iya. Abang Richard kan jauh lebih ganteng dbanding kamu. Kamu tu dulu item jelek pendek, nakal lagi!”
“ nah waktu udah dewasa ini tante Elf yang sering sebut2 kalo tu photo calon istriku.hahahaha. tadinya buat abang Richard karna abang dah ga ada diwarisin ke aku”
“ sialan. Ya udahlah..mending kita pikirkan gimana cara batalinnya”
“yakin nih?? Nggak mikir keluarga kita?”
“emang kamu mau seumur hidup kamu diabisin sama orang yang ga kamu cinta?!”
“aku nggak masalah…”
“aku serius….”
“cinta itu bisa datang kapan aja kok, kita kan ga tau…siapa tau pulang dari sini kamu jatuh cinta dengan aku”
“jangan bercanda,aku serius…”
“aku juga. Kamu lebih cinta mami,papi, keluarga ato pacar kamu sekarang?”
“ya mami papi lah! Tapi kan aku nikahnya bukan dengan mami papi atau mama papa kamu”
“jadi kamu yakin mau nikahnya sama pacar kamu sekarang??”
“ya nggak siiih…tapi kan saat ini aku cintanya sama dia”
“kalau gitu, kamu pilih ngecewain keluarga atau ngecewain laki-laki yang pernah ngeceewain kamu?”
Aku terdiam dengan pertanyaan itu..masuk di pikiranku, tapi masih mengetuk-ngetuk di hatiku,Seolah-olah ragu ingin masuk.
“kan dari dulu ku bilang, let it flow..kita lihat aja nanti pada siapa Tuhan berpihak”, tambahnya meyakinkanku
“ tapi kamu aja cintanya sama si Vivi itu, bisa-bisa udah nikah sama aku kamu malah selingkuh. Kamu kan ga suka sama aku”. Aku mulai kembali menaikkan intonasi.
“aku mencintainya, tapi terkadang kita harus mengorbankan seseorang atau sesuatu yang kita cintai demi sesorang atau sesuatu yang lebih kita cintai”
“maksudnya?”
“akh udah ah, ni kita mau pulang atau jadi nonton?”
“pulang aja. Pengen cepat-cepat Online di rumah”
“ngapain?? YM sama siapa?aku kan di sini”
“mau berkebun. Bentar lagi panen. ”
“ oh iya, tu yang anak karawang kemaren gimana??”
“karawang??tangerang.”
“iya..kamu mendua ya?”
“enak aja. Dia tu dah punya calon ternyata..dah tunangan”
“baru tunangan?”
“yeee… malah eike ditipu..dia mah dah punya tunangan dari dulu….tapi kita tetep temenan kok”
“hahahahaha…”
“ga lucu.”, air muka ku berubah seketika. dengan
“ganggu calon suami orang.hahaha. awas lho…ntar calon suami kamu juga diganggu orang”
“maksud loooooh? Dah ah. Pulang yuk..”, aku langsung menarik tangannya untuk beranjak dari tempat itu. Setidaknya untuk hari ini semua baik-baik saja.

Senin, 04 Oktober 2010

PART 2: Andai telah ditakdirkan dia jodohku,maka ku terima dia seadanya..

Baru kali ini aku merasa ingin menghentikan waktu, atau berharap mobil ini tak melaju..atau juga jalan menuju bandara ini terus memanjang, hingga aku tak jua sampai di sana, dan bertemu dengannya. Tak ada yang lebih gila rasanya dari hari ini. Mungkin aku harus menyiapkan kerangkeng khusus untuk jantung ini agar tak melompat nantinya. Aakh…kenapa tiba2 saja begini.


Aku terus melamun dalam kemudiku.. bahkan masih terngiang adikku yang paling usil tiba2 menyolot “tuh disuruh jemput calon suami di bandara!”. Whaaat?! Apa2an ini?? Aku hanya bisa tersenyum kecut tak mengerti hingga akhirnya saat ini aku harus menjemput seseorang itu.

***
Pertemuan yang ntah apalah namanya.. lebih manis dari terakhir aku bertemunya. Tapi plok plok plok! Sadar….sadar….kamu masih punya kekasih.. tapi yang ini?? Meskipun bukan kekasihku tapi ia adalah calon suamiku. Aaaaakh….ntah berhasil atau tidak ia memasuki kehidupanku. Tapi ini sungguh dilema. Terlebih lagi, manusia yang mau tak mau selalu jadi bahan pikiranku ini hanya berjarak beberapa senti dariku. Tanpa kata2…hanya senyuman dan kekakuan. Aneh! Bukankah sebelumnya pun kami telah akrab? Bahkan dia sempat menjadi supir pribadiku.hehe… aneh….grogi kah?

Tanpa kata2, bahkan suasana hening dalam mobilku pun tak dipecahkan sedikitpun olehnya. Mungkin kami sama2 terlarut dengan lagu NOT WITH ME yang sedang ku putar..tapi keheningan itu dibuyarkan dengan hpnya yang berbunyi. Tentu saja dari wanita yg selama ini di hatinya..aku diam dan tak tau harus bersikap bagaimana. Hanya bisa senyum.. dan membuka sedikit percakapan “kita mampir k mall dulu ya… mau ngambil notebook..kmaren kena air, sekalianlah jalan2 liat mall di sini.hehe” dia pun hanya mengangguk

Oh my god….mimpi apa aku semalam?? Hari2ku akan dihantui dan diamati oleh seseorang! Dan aku akan kehilangan privacyku!oh tidaaaaak…. Dan yang lebih gila lagi, bila mereka berdua akhirnya bertemu.

***
Hingga detik ini, masih terdengar riuh renyah suaranya yang sedang asik bercerita dengan kedua orang tuaku. Tapi aku sepertinya lebih memilih untuk tetap di kamar. Berkutat dengan notebook ku yang baru saja sembuh.sungguh…sesungguhnya aku belum siap bertemu dengannya lagi, paling tidak hingga kami cukup tegas dengan hati masing2. Bahkan aku pun tak mampu bertanya, dalam rangka apa ia ada di kota ini??
AAAaakh… kenapa ia tak menegaskan semua ini??setidaknya ia harus menjadi lebih jantan untuk menolak dan mengatakan semua. Mengatakan bahwa ia pun telah memiliki pilihan hatinya.lalu bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan wanita itu?? Bagaimana dengan hidupku?dan yang lebih jelas lagi, bagaimana hari2ku dalam beberapa hari ke depan?? Ntah apa yg ku rasa, ada kecemasan namun ntah mengapa terkadang aku tersenyum sendiri. Aaaaaakh….

Masih ku ingat, beberapa minggu yang lalu, wanita yang menjadi kekasih si “datuk maringgi muda” ku bertanya padaku ketika aku tak sengaja men-tag photo2 kami di FBnya. Ntah kenapa, rasanya aku ingin menjawab “aku adalah calon istri kekasihmu”. Tapi benar2 gila rasanya kalo itu sungguh terjadi. Nyatanya, aku hanya sanggup menjawab “ aku saudara kekasihmu”. Tapi aku tak merasa berbohong.. bukankah itu benar??bukankah kenyataannya kakek pria yang saat ini berada di rumahku adalah adik dari kakekku. Ntah percaya atau tidak, wanita itu terus bertanya, saudara bagaimana??. Aku pun berfikir… apa sebutan yg pas untuk kami berdua, mungkin sepupu.dan akhirnya aku mengatakan bahwa kami adalah sepupu. Wanita itu cukup nyinyir, masih saja dia lanjutkan pertanyaan itu. Oooh berarti kamu juga cucunya mantan pak bupati ya?. Ooh my god! Wanita ini! Penting ya bahas itu?penting ya menggunakan kata2 itu?. Aku hanya menjawab. Kakekku kakak dari kakeknya. Sungguh aku merasa tak nyaman saat itu. Dan aku hanya bisa berkata untuk bertanya langsung pada kekasihny.

Dan Aku hanya bisa berkata…. Andai telah ditakdirkan dia jodohku,maka ku terima dia seadanya..

Rabu, 22 September 2010

NOT WITH ME

Bondan Prakoso & Fade 2 Black – Not With Me


Intro : C F Am F


Reff :

C Am F

I’m walking up from my summers dreams again

Am G F

try to thinking if you’re alright

C Am F

then I’m shattered by the shadows of your eyes

Am G F Fm

knowing you’re still here by my side


Reff II :


C F

I can see you if you’re not with me

Am G F

I can say to my self if you’re OKAY

C F

I can feel you if you’re not with me

Am G F Fm

I can reach you my self, you show me the way


life was never be so easy as it seems

’till you come and bring your love inside

no matter space and distance make it look so far

still I know you’re still here by my side


Back to Reff II


Bondan :

Dm F Am G

yea..you’ve made me so alive ,you give the best for me..love and fantasy

Dm F Am

yeah..and i never feel so lonely, coz you’re always here with me..

G

yeah..always here with me


Back to Reff II


C Am F

I’m walking up from my summers dreams again

Am G F

try to thinking if you’re alright

Bm C Am Dm F

then I’m shattered by the shadows of your eyes

G F

knowing you’re still here by my side



Artikel Bondan Prakoso & Fade 2 Black – Not With Me ini dipersembahkan oleh Chordlaguindonesia.comLirik dan Chord Lagu Indonesia Gratis. Kunjungi Juga Free Download Mp3 untuk download lagu indonesia terbaru.

Senin, 20 September 2010

PART 1: SITI NURBAYA di KOTA nan ku RINDU



Seperti disambar petir..

Aku telah disapa kilat asing di kota nan asing. Ya…pagi itu aku mulai membuka hari baru di tempat penuh kenangan. Ntah berapa tahun aku lupa menyapa tempat ini. Masih terbayang jelas layang-layang yang ku kejar beberapa tahun yang lalu. Masih terbayang pula seorang anak lelaki nakal yang kuceburkan di sungai. Ku dorong dari atas jembatan hingga jatuh dan untung dia bisa berenang. Tapi itu dulu..dulu sekali..waktu aku masih dengan usilnya melempar sepatu kekasih tanteku.


Saat ini, semua berubah.lelaki yg kudorong di jembatan hingga jatuh ke sungai itu telah tumbuh tinggi besar. Sayangnya dia tetap tidak menarik. Tetap terbayang dia adalah anak nakal yang memutuskan layangan saudaraku.semua banyak berubah..


Bukan cerita tentang si pemutus layangan, atau pun kekasih tante ku yang saat ini ntah dimana. Ada sisi lain yang menjadi petir dalam kota yang ku rindu.


Ya….hari itu..disaat semua berkumpul. Berdandan dengan riweh dan rame. Mungkin aku termasuk yang paling cepat berdandan. Cukup pelembab, alas bedak, bedak,sedikit pensil mata dan lip gloss. Tak muluk2, yang penting cukup manis (tetep narsis). Aku baru tau, semua keluarga besar nenekku akan berkumpul di sebuah villa baru nenek. Wajar saja semua berdandan dengan maksimal.


Aku adalah cucu tertua..wajar saja bila aku menjadi bintang. Hehe..bintang yang dihujam dengan ribuan pertanyaan.akh..detik2 inilah yang membuatku terpuruk dengan 1001 pertanyaan.hingga awal petir itu datang. Salah satu dari mereka, nenekku tepatnya, mengeluarkan sebuah nama dari mulutnya. Seperti pernah ku dengar..tapi ku lupa bagaimana persis wajahnya. Mereka begitu antusias bercerita tentang sosok itu. Mereka bercerita tentang kenangan masa lalu. Hingga akhirnya bercerita tentang masa depan.


Samar-samar ku dengar, lelaki dalam perbincangan itu adalah seorang anak dari saudara jauh keluargaku. Ntah bagaimana silsilahnya aku tak mengerti. Yang aku tau cerita-cerita baik keluar dari perbincangan mereka. Villa kecil nenek pun riuh ketika salah seorang dari mereka sontak menyebut namaku. Akh, kenapa aku dikaitkan dengan lelaki itu.


1 hari…2 hari…3 hari…


Cukup lama aku menghirup udara kota ini.tak pernah terbesit sedikit pun kata bosan.seakan aku ingin menambah hari-hari ini. Belum cukup segala tempat kenangan itu aku injak. Hingga akhirnya pertemuan itu tiba. Ntah bagaimana awalnya. Yang aku tahu acara keluarga ini menghadirkan sosok yang ntah siapa dia aku pun lupa. Sekilas dia cukup menawan, aura yang terpancar cukup mempesona. Tapi tidak untukku. Perkenalan singkat itu membuat aku tahu siapa dia sebenarnya. Tak lain dan tak bukan, dialah lelaki yang namanya dielu-elukan beberapa hari lalu. Mmm…tak seburuk yang ku bayangkan. Benar, dia menarik. Lebih menarik dari sosok yang ku kenal beberapa tahun yang lalu. Terakhir aku bertemu sewaktu kami masih ingusan. Bahkan ia terlalu nakal saat itu. Tak pernah ku lupa, berkali2 ia menjambak rambutku. Akh..dia benar-benar orang menyebalkan. Itu dulu…


Sekarang semua berubah..si nakal itu mulai manis padaku. Tapi tak bisa membuatku merasa cukup senang. Setelah ku dengar dari tante bahwa selama ini dia lah yang akan mendampingi hidupku. Ini benar2 petir yang menggelegar. Tak mungkin! Tante manisku yang tampangnya paling bule ini pasti bercanda.aku tak pernah tau hal ini. Dan tak pernah mau. Tanteku terus mengoceh lebar dengan semangat memperkenalkan bagaimana dia . sungguh membuat tampang bulenya menjadi lucu. Diantara anak-anak nenek, mungkin dialah yang paling kental wajah belandanya.membuat aku geli sendiri bila bercanda dan membuat mukanya memerah.


Kembali lagi tentang dia yang katanya dijodohkan denganku. Dia lelaki tegap. Secara fisik,aku suka..tapi itu tak cukup. Aku tau, terkadang pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik buat ku. Tapi ntahlah untuk hal ini. Mungkin kedua orang tua ku tak tahu, bahwa seseorang yang pernah menjadi kekasihku dulu kini kembali hadir dalam hidupku. Dan hati ini masih untuknya. Belum bisa terganti. Sesungguhnya begitu, meskipun percikan cinta lain selalu saja mencoba mengganggu. Bahkan mungkin aku terlalu berani untuk mulai bermain hati.hehe…


Kali ini aku mengenal lagi kota yang ku pijak saat ini. Bukan mengenalinya sendiri..”pariban”ku yang setia menjadi pemanduku. Ntah sengaja atau tidak, selalu saja mereka-mereka memberikan waktu untuk kami. Bukan hanya itu, seolah-olah aku memiliki sopir pribadi.


Kegelisahan itu hadir..petir itu hadir bukan hanya padaku. Bahkan pada lelaki yang tak terbayangkan akan menemani hidupku itu. Dengan berat dan hati-hati ia bertanya tentang cintaku. Dan dengan hati-hati aku melepas cincin di jari manisku.ku berikan padanya, berharap dia membaca nama yang terukir di dalamnya. Setidaknya dia tau bahwa hatiku telah terisi, bahwa ada seseorang yang mencintaiku di sana. Senyum manis lepas dari bibirnya. Membuatku berhenti mengunyah daging-daging sate yang memenuhi mulut. Dia mengeluuarkan ponsel dari sakunya, menunjukkan photo seorang wanita manis. Lega rasanya…tapi tetap saja menjadi dilema. Bukan hanya aku, tapi juga dia.


Malam itu dia hadir dengan celana pendek dan sendal jepit. Lagi-lagi chemistry celana pendek dan sendal jepit tiba. Sepertinya jin celana pendek dan sendal jepit bahagia sekali menguntit hatiku.bahkan menguntit mimpi di tiap malamku. Dilema yang bergejolak, membabi buta berperang dalam hati. Sementara senyum-senyum diantara keluarga kami terus saja menjadi momok yang manis. Tetap manis dan tetap saja mengerikan.


Aku tak pernah terbiasa dengan hati yang mendua, apa lagi mentiga..dilema yang lengkap. Semua situasi membuatnya menjadi tersusun sempurna.bodohnya aku terlalu mengikuti semua..lengkap dengan posisi yang berbeda. Ada cinta yang tak harus ku miliki, ada seseorang yang memang milikku, dan ada seseorang yang dihadirkan untuk menemani hidupku. Sepertinya hati ini ingin berontak, mungkin juga ia teriak “ heeeey helooooo sejak kapan kau bagi-bagi ruangku?”


Aku masih bersyukur, lelaki dadakan-ku mengerti semuanya. Tapi ia tetap saja manis. Dengan manis ia menikmati hari-hari itu. Dengan manis ia tetap melindungiku. Aku cukup membenci sikap itu. Membuat hatiku rapuh dalam sebuah keputusan.membesarkan dilema yang telah tumbuh. Sejak kapan aku menjadi selemah ini? Sementara ia dengan mudahnya berkata “biarlah kita lihat, pada siapa Tuhan berpihak”


"Maka wajarlah jika wanita menggunakan kepekaan intuisi dan ketajaman logikanya,
untuk memilih pria yang terbaik, yang akan dimuliakannya sebagai suami dan kepala keluarga."